Lompat ke konten (Tekan Enter)
Feather Pen

Feather Pen

Your quiet corner for books, writing, and literary inspiration

  • Author
  • Books
  • Creative Writing
  • Reading
  • Writing Tips
  • Author
  • Books
  • Creative Writing
  • Reading
  • Writing Tips

Kenapa Tulisan Sederhana Justru Lebih Enak Dibaca? Rahasia Menulis Tanpa Terdengar Kaku

oleh Cathy Blackpada Agustus 21, 2026Agustus 21, 2026

Ketika baru mulai menulis, ada godaan untuk membuat setiap kalimat terdengar pintar. Kata sederhana diganti istilah yang lebih rumit. Kalimat pendek diperpanjang. Satu ide yang sebenarnya dapat dijelaskan dalam sepuluh kata berubah menjadi satu paragraf.

Hasilnya memang terlihat lebih “serius”, tetapi belum tentu lebih nyaman dibaca.

Tulisan yang bagus tidak harus membuat pembaca kagum pada seberapa banyak kosakata yang diketahui penulis. Dalam banyak situasi, cara menulis yang enak dibaca justru dimulai dari kemampuan menyampaikan sesuatu dengan jelas, sederhana, dan tanpa membuat pembaca bekerja terlalu keras untuk memahami maksudnya.

Menulis Bukan Kompetisi Menggunakan Kata Sulit

Bayangkan ada dua kalimat:

“Kami menggunakan metode ini untuk mengetahui penyebab masalah.”

Kemudian:

“Kami mengimplementasikan metodologi tersebut dalam rangka mengidentifikasi faktor kausal yang melatarbelakangi permasalahan.”

Keduanya mungkin mencoba menyampaikan gagasan yang mirip.

Namun kalimat kedua membutuhkan lebih banyak energi untuk diproses.

Apakah kata-kata kompleks selalu salah?

Tentu tidak.

Dalam tulisan akademis, teknis, hukum, atau bidang tertentu, istilah spesifik memang diperlukan.

Masalah muncul ketika kata rumit digunakan hanya agar tulisan terdengar lebih pintar.

Pembaca Tidak Datang untuk Menguji Penulis

Sebagian besar pembaca datang karena ingin mendapatkan sesuatu.

Informasi.

Cerita.

Jawaban.

Hiburan.

Perspektif.

Mereka tidak sedang memberikan nilai terhadap jumlah kata sulit dalam tulisan.

Jika satu paragraf harus dibaca tiga kali hanya untuk memahami ide sederhana, kemungkinan besar masalahnya bukan pada pembaca.

Tulisan memiliki pekerjaan:

mengantarkan ide dari pikiran penulis menuju pikiran pembaca.

Semakin sedikit hambatan yang tidak diperlukan, semakin baik.

Sederhana Bukan Berarti Dangkal

Ini perbedaan penting.

Ide kompleks tetap dapat memiliki penjelasan yang sederhana.

Bahkan kemampuan menjelaskan konsep sulit menggunakan bahasa yang mudah sering menunjukkan bahwa penulis benar-benar memahami topiknya.

Sebaliknya, bahasa rumit terkadang dapat menyembunyikan pemahaman yang sebenarnya belum jelas.

Jika kita tidak dapat menjelaskan ide dengan sederhana, ada kemungkinan kita sendiri masih belum sepenuhnya memahami apa yang ingin dikatakan.

Mulai dari Apa yang Sebenarnya Ingin Dikatakan

Sebelum memikirkan gaya bahasa, tanyakan:

Apa inti kalimat ini?

Misalnya kita menulis:

“Produktivitas seseorang dalam menjalankan aktivitas profesional dapat mengalami penurunan sebagai konsekuensi dari kurang optimalnya waktu istirahat.”

Apa sebenarnya yang ingin dikatakan?

Kurang tidur dapat menurunkan produktivitas kerja.

Sekarang pesannya jauh lebih terlihat.

Setelah inti ditemukan, barulah kita dapat menambahkan detail jika memang dibutuhkan.

Kalimat Pendek Memberikan Ruang Bernapas

Tidak setiap kalimat harus pendek.

Namun jika seluruh paragraf terdiri dari kalimat panjang, pembaca dapat kehilangan arah.

Kalimat pendek dapat digunakan untuk memberikan jeda.

Menekankan ide.

Mengubah ritme.

Misalnya:

“Kita sudah memiliki rencana. Data juga sudah tersedia. Masalahnya hanya satu: tidak ada yang mulai mengerjakannya.”

Kalimat terakhir terasa lebih kuat karena ritmenya berubah.

Variasi panjang kalimat membuat tulisan terasa lebih natural.

Paragraf Juga Jangan Terlalu Padat

Membaca artikel melalui layar berbeda dengan membaca buku cetak.

Pada layar ponsel, satu paragraf yang sangat panjang dapat terlihat seperti tembok teks.

Pembaca belum membaca isinya tetapi sudah merasa berat.

Karena itu, pecah paragraf ketika ide mulai berpindah.

Tidak ada aturan bahwa setiap paragraf harus memiliki jumlah kalimat tertentu.

Yang lebih penting adalah setiap paragraf memiliki satu fokus yang cukup jelas.

Satu Kalimat Tidak Harus Membawa Lima Ide

Masalah umum lainnya adalah mencoba memasukkan terlalu banyak informasi sekaligus.

Contohnya:

“Menulis setiap hari dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus memperluas kosakata karena penulis akan terbiasa mengorganisasi ide dan mencari cara menyampaikan informasi sehingga kebiasaan tersebut juga berguna untuk pekerjaan.”

Ada banyak ide di sana.

Coba pecah.

“Menulis setiap hari dapat melatih kemampuan komunikasi. Kita belajar mengorganisasi ide dan memilih kata yang tepat. Kebiasaan tersebut juga dapat membantu dalam pekerjaan yang membutuhkan komunikasi tertulis.”

Informasinya tetap ada.

Namun jalurnya lebih mudah diikuti.

Hapus Kata yang Tidak Melakukan Pekerjaan

Editing sering bukan tentang menambahkan sesuatu.

Justru menghapus.

Perhatikan kalimat:

“Pada dasarnya sebenarnya kita mungkin dapat mencoba untuk mulai mempertimbangkan opsi tersebut.”

Banyak kata bekerja sebagai bantalan.

Versi lebih langsung:

“Kita dapat mulai mempertimbangkan opsi tersebut.”

Atau bahkan:

“Kita bisa mempertimbangkan opsi tersebut.”

Setiap kata seharusnya memiliki alasan untuk berada dalam kalimat.

Hati-Hati dengan Pengulangan yang Tidak Disadari

Ketika menulis draft pertama, kita sering menjelaskan ide yang sama beberapa kali.

Paragraf pertama mengatakan A.

Paragraf berikutnya mengatakan A dengan kata berbeda.

Kemudian kesimpulan kembali menjelaskan A.

Pengulangan tertentu memang berguna untuk penekanan.

Namun jika tidak disengaja, tulisan terasa berputar-putar.

Saat editing, tanyakan:

Apakah paragraf ini memberikan informasi baru?

Jika tidak, mungkin dapat digabung atau dihapus.

Gunakan Kata yang Memang Digunakan Orang

Tulisan tidak harus terdengar seperti percakapan mentah.

Namun bahasa yang terlalu jauh dari cara manusia berkomunikasi dapat terasa kaku.

Misalnya:

“Individu tersebut melakukan perpindahan menuju kediamannya.”

Dalam banyak konteks, cukup:

“Dia pulang.”

Tidak ada hadiah karena menggunakan lima kata ketika satu kata sudah menyelesaikan pekerjaan.

Pilih kata yang paling natural selama tetap sesuai dengan konteks tulisan.

Kata Teknis Tetap Boleh Digunakan

Tulisan sederhana bukan berarti seluruh istilah teknis harus dihilangkan.

Jika sedang menjelaskan SEO, kata seperti canonical, backlink, atau crawl mungkin memang diperlukan.

Jika menulis mengenai fotografi, kita mungkin membutuhkan istilah aperture, shutter speed, dan ISO.

Yang penting adalah mengetahui siapa pembacanya.

Untuk pemula, istilah dapat dijelaskan saat pertama kali muncul.

Untuk pembaca berpengalaman, penjelasan dasar mungkin tidak diperlukan.

Kesederhanaan juga berarti tidak memberikan beban informasi yang tidak dibutuhkan audiens.

Contoh Sering Lebih Berguna daripada Definisi Panjang

Misalnya kita ingin menjelaskan konsep show, don’t tell.

Kita bisa memberikan definisi panjang.

Atau menunjukkan:

Tell:

Rina sangat gugup sebelum wawancara.

Show:

Rina memeriksa jam untuk ketiga kalinya. Tangannya terus merapikan ujung kemeja yang sebenarnya sudah rapi.

Contoh membuat konsep menjadi konkret.

Pembaca tidak hanya mengetahui definisinya.

Mereka melihat bagaimana teknik tersebut digunakan.

Baca Tulisan dengan Suara Keras

Ini salah satu teknik editing paling sederhana.

Baca draft dengan suara keras.

Bagian yang sulit diucapkan sering juga sulit dibaca.

Kita dapat menemukan:

kalimat terlalu panjang,

pengulangan,

kata yang terasa aneh,

ritme yang tidak natural,

atau bagian yang kehilangan arah.

Telinga terkadang menangkap masalah yang dilewatkan mata.

Bayangkan Menjelaskannya kepada Satu Orang

Ketika menulis untuk “internet”, audiens terasa sangat besar dan abstrak.

Akibatnya, gaya bahasa dapat berubah menjadi formal secara berlebihan.

Coba bayangkan satu orang.

Misalnya teman yang tertarik dengan topik tersebut tetapi belum memahaminya.

Bagaimana kita akan menjelaskan kepadanya?

Biasanya penjelasan menjadi lebih langsung.

Ada contoh.

Ada konteks.

Tidak terlalu banyak istilah.

Teknik ini membantu tulisan terasa seperti komunikasi, bukan pidato.

Draft Pertama Tidak Harus Bagus

Banyak orang kesulitan menulis karena mencoba melakukan dua pekerjaan sekaligus:

menulis dan mengedit.

Baru mengetik satu kalimat.

Hapus.

Tulis lagi.

Ganti satu kata.

Baca ulang.

Hapus lagi.

Sepuluh menit berlalu dan paragraf pertama belum selesai.

Coba pisahkan prosesnya.

Draft pertama bertugas mengeluarkan ide.

Editing bertugas memperbaikinya.

Tidak perlu meminta satu tahap melakukan semuanya.

Editing adalah Tempat Tulisan Menjadi Lebih Ringan

Setelah draft selesai, cari bagian yang dapat dipadatkan.

Apakah intro terlalu lama?

Apakah dua paragraf dapat menjadi satu?

Apakah ada kata yang tidak dibutuhkan?

Apakah contoh benar-benar membantu?

Apakah kesimpulan mengulang seluruh artikel?

Sering kali tulisan menjadi lebih kuat setelah 10–20 persen bagian yang tidak penting dibuang.

Bukan karena artikelnya menjadi pendek.

Tetapi karena setiap bagian memiliki fungsi yang lebih jelas.

Jangan Menjelaskan Sesuatu yang Sudah Jelas

Penulis kadang takut pembaca tidak memahami maksudnya sehingga setiap detail dijelaskan.

Padahal pembaca juga dapat menarik kesimpulan.

Contoh:

Andi menutup laptopnya dengan keras. Ia berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa melihat siapa pun. Ia sedang marah.

Kalimat terakhir mungkin tidak diperlukan.

Tindakan sebelumnya sudah memberikan informasi tersebut.

Memberikan sedikit ruang kepada pembaca dapat membuat tulisan terasa lebih hidup.

Tulisan yang Natural Tetap Membutuhkan Struktur

Natural bukan berarti menulis tanpa arah.

Artikel tetap membutuhkan perjalanan.

Pembukaan memberikan alasan untuk membaca.

Bagian tengah mengembangkan ide.

Contoh membantu pemahaman.

Transisi menghubungkan pembahasan.

Kesimpulan memberikan penutup.

Struktur yang baik justru membuat gaya santai lebih mudah diikuti.

Pembaca mungkin tidak menyadari strukturnya, tetapi mereka dapat merasakan ketika struktur tidak ada.

Gunakan Subheading sebagai Petunjuk Jalan

Untuk artikel panjang, pembaca tidak selalu membaca dari awal sampai akhir.

Sebagian melakukan scanning.

Subheading membantu mereka mengetahui apa yang akan dibahas.

Bandingkan:

Hal Berikutnya

dengan:

Kenapa Kalimat Pendek Lebih Mudah Dipahami

Subheading kedua memberikan informasi.

Bahkan tanpa membaca paragrafnya, pembaca sudah memahami arah pembahasan.

Jangan Terlalu Mengejar “Gaya Penulis”

Penulis pemula terkadang terlalu cepat mencari gaya unik.

Akibatnya, setiap kalimat dipaksa memiliki karakter.

Padahal gaya biasanya muncul dari kebiasaan.

Semakin banyak menulis, kita mulai mengetahui:

jenis kalimat yang disukai,

cara membuka artikel,

jenis humor,

ritme,

cara memberikan contoh,

dan cara menyusun argumen.

Gaya yang natural biasanya ditemukan, bukan dipaksakan.

Tulisan Bagus Membuat Pembaca Lupa Ada Penulis

Ini mungkin terdengar aneh.

Namun ketika membaca sesuatu yang sangat nyaman, kita jarang berhenti dan berpikir:

“Wah, struktur kalimat penulis ini luar biasa.”

Kita justru terus membaca.

Ide bergerak tanpa hambatan.

Cerita terasa hidup.

Informasi mudah dipahami.

Bahasa menjadi seperti kaca jernih.

Kita melihat apa yang ada di baliknya tanpa terus memperhatikan kacanya.

Tes Sederhana Sebelum Publish

Sebelum menerbitkan tulisan, coba periksa lima hal:

Apakah inti artikel terlihat jelas?

Apakah ada kalimat yang terlalu panjang?

Apakah ada paragraf yang mengulang informasi?

Apakah kata sulit dapat diganti dengan kata yang lebih sederhana?

Apakah pembaca target akan memahami istilah yang digunakan?

Jika lima pertanyaan tersebut sudah terjawab dengan baik, tulisan biasanya sudah jauh lebih mudah dibaca.

Jangan Membuat Pembaca Bekerja Lebih Keras dari yang Diperlukan

Penulis memiliki keuntungan besar.

Kita sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan.

Pembaca belum.

Karena itu, sesuatu yang terasa jelas bagi penulis belum tentu jelas bagi orang yang baru melihatnya.

Tugas editing adalah memperkecil jarak tersebut.

Bukan dengan membuat tulisan semakin rumit.

Justru sebaliknya.

Buang hambatan.

Pilih kata yang tepat.

Berikan contoh ketika diperlukan.

Potong bagian yang tidak membawa pembaca ke mana-mana.

Karena pada akhirnya, tulisan sederhana bukan tulisan yang kekurangan kecerdasan.

Tulisan sederhana adalah tulisan yang sudah bekerja keras sebelum sampai ke pembaca.

Dan mungkin salah satu tanda tulisan berhasil adalah ketika pembaca tidak berkata:

“Penulisnya pintar sekali.”

Melainkan:

“Oh, sekarang gue ngerti.”

Books Creative Writing Writing Tips
cara menulis yang enak dibaca creatici writing writingh tips

Cathy Black

Navigasi Artikel

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
  • royaldream
  • rp888
  • https://www.aontv.org/
  • https://themothersinstitute.org/
  • https://www.thanksgivingworld.com/
  • https://homagemagazine.com/
  • rp888
  • rp888
  • rp888
  • rp888
  • https://fitness2fitlife.com/
  • https://www.creatoreconomyjournal.com/
  • https://www.apbi-icma.com/
  • https://www.cinecinecine.com/
  • https://elizabethtoni.com/
  • rp888

Pos-pos Terbaru

  • Punya Banyak Ide tapi Begitu Mau Nulis Malah Blank? Ini Cara Keluar dari Writer’s Block
  • Diskon 50% + 20% Bukan Berarti 70%: Kenapa Banyak Orang Salah Menghitung Diskon Bertingkat?
  • Kenapa Tulisan Terasa Membosankan Padahal Secara Grammar Sudah Benar?
  • Kenapa Tulisan Sederhana Justru Lebih Enak Dibaca? Rahasia Menulis Tanpa Terdengar Kaku
  • Writer’s Block Itu Normal: 8 Cara Kembali Menulis Saat Pikiran Benar-Benar Buntu

Tag

belajar menulis blogging cara menulis yang enak dibaca creatici writing creative writing creativie writing Ide Tulisan kebiasaan menulis Kreativitas Menulis Produktivitas tips menulis Writer writers block Writer’s Block writingh tips writing tips writter
Disarankan untuk Anda...

Punya Ide tapi Bingung Mulai Menulis? Coba 7 Cara Sederhana Ini.

oleh Cathy Black
Disarankan untuk Anda...

Diskon 50% + 20% Bukan Berarti 70%: Kenapa Banyak Orang Salah Menghitung Diskon Bertingkat?

oleh Cathy Black
Disarankan untuk Anda...

Kenapa Tulisan Terasa Membosankan Padahal Secara Grammar Sudah Benar?

oleh Cathy Black
© Hak Cipta2026 Feather Pen. Hak Cipta Dilindungi.The Ultralight | Dikembangkan Oleh Rara Theme.Ditenagai oleh WordPress.