Ada hari ketika menulis terasa mudah. Ide muncul satu per satu, kalimat mengalir, dan tanpa terasa beberapa halaman sudah selesai. Namun ada juga saat ketika layar kosong terasa seperti lawan yang sulit dikalahkan. Sudah duduk cukup lama, tetapi satu paragraf pun belum berhasil dibuat.
Kondisi seperti ini sering disebut writer’s block. Seorang penulis bisa mengetahui topik yang ingin dibahas tetapi kesulitan mengubahnya menjadi tulisan. Dalam kondisi lain, masalahnya justru muncul karena tidak tahu harus menulis apa sama sekali. Semakin dipaksakan, pikiran malah terasa semakin kosong.
Mengalami kebuntuan bukan berarti seseorang kehilangan kemampuan menulis. Penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman dapat mengalaminya. Yang lebih penting adalah mengetahui cara mengatasi writer’s block tanpa membuat proses menulis terasa seperti beban.
Kenapa Writer’s Block Bisa Terjadi?
Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua orang.
Terkadang masalah muncul karena kelelahan. Setelah seharian bekerja atau melakukan banyak aktivitas, otak mungkin tidak memiliki energi yang sama untuk melakukan pekerjaan kreatif.
Pada kondisi lain, penyebabnya justru perfeksionisme. Kita terlalu ingin membuat tulisan yang bagus sehingga setiap kalimat dinilai bahkan sebelum paragrafnya selesai.
Ada pula penulis yang kehilangan arah karena belum mengetahui apa sebenarnya yang ingin disampaikan.
Mengetahui sumber kebuntuan dapat membantu menentukan cara yang lebih tepat untuk mengatasinya.
1. Berhenti Mengejar Kalimat Sempurna
Kalimat pertama tidak harus menjadi kalimat terbaik dalam artikel.
Bahkan kemungkinan besar kalimat tersebut akan berubah ketika proses editing dilakukan.
Masalah muncul ketika kita mencoba menulis sekaligus mengedit pada waktu yang sama. Baru beberapa kata dibuat, kita langsung mempertanyakan apakah pilihan katanya sudah bagus.
Cobalah memberikan izin kepada diri sendiri untuk membuat draft yang buruk.
Tuliskan apa yang ada di kepala terlebih dahulu. Setelah gagasannya terlihat, barulah bahasa dan strukturnya diperbaiki.
Tulisan yang berantakan masih dapat diedit. Halaman kosong tidak memberikan banyak pilihan.
2. Tinggalkan Bagian yang Membuat Buntu
Menulis tidak harus selalu dilakukan secara berurutan.
Jika berhenti terlalu lama pada bagian pembukaan, pindah ke bagian lain.
Mungkin kita sudah mengetahui contoh yang ingin digunakan di tengah artikel atau sudah memiliki gambaran mengenai kesimpulannya.
Tuliskan bagian tersebut terlebih dahulu.
Sering kali setelah beberapa paragraf berhasil dibuat, pembukaan yang sebelumnya terasa sulit justru muncul dengan sendirinya.
Yang penting adalah menjaga proses tetap bergerak.
3. Gunakan Timer untuk Memaksa Diri Mulai
Terkadang bagian tersulit dari menulis hanyalah lima menit pertama.
Coba pasang timer selama 10 atau 15 menit dan buat satu aturan sederhana: selama waktu tersebut, teruslah menulis tanpa menghapus apa pun.
Tidak perlu memikirkan tata bahasa atau struktur.
Tujuannya bukan menghasilkan tulisan final, melainkan memindahkan pikiran ke halaman.
Setelah timer selesai, kita boleh berhenti. Namun sering kali momentum sudah terbentuk dan menulis menjadi lebih mudah untuk dilanjutkan.
4. Ubah Tempat Menulis
Lingkungan dapat memengaruhi konsentrasi lebih besar daripada yang kita sadari.
Jika setiap hari menulis di meja yang sama dan mulai merasa jenuh, coba pindah sementara.
Menulis di ruang lain, perpustakaan, taman, atau kedai kopi dapat memberikan suasana berbeda.
Tidak harus pergi jauh.
Bahkan merapikan meja atau memindahkan posisi duduk terkadang cukup untuk memberikan sensasi baru.
Perubahan lingkungan bukan solusi ajaib, tetapi dapat membantu memutus pola ketika pikiran sudah terlalu mengasosiasikan satu tempat dengan rasa buntu.
5. Baca Sesuatu yang Tidak Sedang Kamu Tulis
Ketika tidak dapat menghasilkan ide, memasukkan informasi baru terkadang lebih berguna daripada terus memaksa diri menulis.
Baca buku, artikel, esai, wawancara, atau tulisan dari genre yang berbeda.
Tujuannya bukan mencari kalimat untuk ditiru.
Perhatikan bagaimana penulis lain membuka tulisan, menjelaskan sesuatu, membuat transisi, atau menggunakan contoh.
Satu gagasan yang kita temukan dapat memicu pertanyaan baru yang akhirnya membawa pikiran kembali ke tulisan sendiri.
Membaca dan menulis memiliki hubungan yang sangat dekat. Sulit terus menghasilkan sesuatu jika kita tidak pernah memberikan bahan baru kepada pikiran.
6. Jelaskan Topik dengan Suara
Ada kondisi ketika kita kesulitan menuliskan sesuatu tetapi sebenarnya mampu menjelaskannya dengan mudah melalui percakapan.
Manfaatkan hal tersebut.
Buka perekam suara lalu jelaskan topik seolah-olah sedang berbicara kepada seorang teman.
Tidak perlu menggunakan bahasa formal.
Setelah selesai, dengarkan kembali.
Biasanya akan muncul beberapa kalimat atau penjelasan natural yang dapat dijadikan dasar sebuah paragraf.
Teknik ini sangat membantu bagi orang yang terlalu kaku ketika mulai mengetik.
7. Buat Target yang Sangat Kecil
Target seperti “hari ini harus menyelesaikan 2.000 kata” dapat terasa berat ketika kita sedang kehilangan momentum.
Coba turunkan targetnya.
Tulis 100 kata.
Atau selesaikan satu paragraf.
Setelah target kecil tersebut tercapai, tentukan apakah ingin melanjutkan.
Target sederhana membuat hambatan untuk memulai menjadi lebih rendah. Sering kali kita akhirnya menulis jauh lebih banyak dibanding target awal.
Membangun kebiasaan menulis juga lebih mudah melalui target yang realistis dan konsisten dibanding memaksakan sesi panjang yang hanya dilakukan sesekali.
8. Ketahui Kapan Harus Berhenti Sejenak
Tidak semua writer’s block harus dilawan dengan terus duduk di depan layar.
Jika sudah mencoba berbagai cara tetapi pikiran tetap tidak bekerja, mungkin tubuh memang membutuhkan istirahat.
Berjalan sebentar, mandi, tidur, berolahraga ringan, atau melakukan aktivitas lain dapat membantu pikiran keluar dari tekanan untuk menghasilkan tulisan.
Bedakan antara istirahat dan menghindar.
Istirahat memiliki batas waktu dan kita kembali setelahnya. Menghindar biasanya berubah menjadi “nanti saja” tanpa menentukan kapan akan melanjutkan.
Karena itu, jika memutuskan berhenti, tentukan juga kapan tulisan tersebut akan dibuka kembali.
Jangan Menghapus Semua Tulisan Terlalu Cepat
Ketika sedang frustrasi, draft sering terlihat jauh lebih buruk daripada keadaan sebenarnya.
Jangan langsung menghapus semuanya.
Simpan tulisan tersebut kemudian baca kembali setelah pikiran lebih segar.
Mungkin ada dua paragraf bagus di antara sepuluh paragraf yang berantakan. Dua paragraf itu sudah cukup menjadi fondasi untuk membuat versi berikutnya.
Penulis tidak harus mempertahankan semua yang ditulis, tetapi sebaiknya memberikan kesempatan kepada draft sebelum memutuskan bahwa semuanya tidak berguna.
Writer’s Block Bukan Tanda untuk Berhenti Menulis
Kebuntuan merupakan bagian dari proses kreatif.
Tidak semua sesi menulis akan menghasilkan halaman yang bagus. Ada hari yang produktif, ada hari yang hanya menghasilkan satu paragraf, dan ada pula hari ketika pekerjaan terbesar kita hanyalah menemukan arah tulisan.
Yang membedakan bukan apakah writer’s block pernah muncul, tetapi bagaimana kita meresponsnya.
Turunkan ekspektasi terhadap draft pertama, pindah ke bagian yang lebih mudah, gunakan target kecil, baca sesuatu yang baru, atau istirahat ketika memang diperlukan.
Kemudian kembali lagi.
Karena kemampuan menulis tidak dibangun hanya ketika ide sedang mengalir. Kemampuan tersebut juga tumbuh setiap kali kita berhasil kembali ke halaman setelah sebelumnya merasa benar-benar buntu.

